Profil Pengusaha Saraya Tauris Dianti

Jika pengusaha muda lainnya memilih bisnis fashion. Gadis 24 tahun ini malah memilih menjadi juragan kerupuk. Berawal seorang pengusaha kerupuk yang hampir bangkrut. Saraya Tauris Dianti kemudian datang mengambil alih -mengakuisisi pabrik kerupuk-, karena pemilik awal tidak mampu menutupi biaya oprasional.

Pemilik pabrik kerupuk awal tidak mampu membayar biaya. Pengusaha tersebut tidak mampu membayar uang pesanan tepung ke ibu Raya. Kemudian Ibu Raya dan dia sendiri, memberika penawaran mengambil alih usaha tersebut. Keduanya sepakat membangun usaha kerupuk miliknya kembali jaya.

Sang pemilik awal sama sekali tidak ikut campur. Total produksi diserahkan kepada Ibu Raya, dan kepada Raya pada khususnya menjadi puncak pimpinan pabrik. Sulit sih, bayangkan saja, Raya harus memulai dari nol karena jualan kerupuk biasa saja jaman sekarang susah.

Pengusaha Dadakan

Dia bersama ibu membuat resep sendiri. Kesana- kemari keduanya coba membangkitkan kerupuk buatan mereka sendiri. Banyak komplain datang kepada mereka, mulai dari ukuran, warna, serta rasa yang tidak cocok. Sang ibu lantas menunjuk Raya menghadapi mereka, dari pemasaran sampai costumer service.

“…agar kerupuk kami bisa menjadi lebih baik,” ia menjelaskan.

Melalui aneka eksperimen mencoba menemukan komposisi. Dibawah bisnis Kerupuk Putra Jangkar, Raya mencoba menampung keluhan konsumen mereka. Pokoknya bagaimana agar usaha semakin kedepan. Ia tidak ingin cuma berjualan di kawasan Sidoarjo mulu.

Raya memiliki pandangan ke seluruh Jawa Tengah, Jawa Barat, sampai ke Lampung, Makassar, dan juga ke Balikpapan. Padahal awalnya, Raya sendiri tidak memilik pandangan segitu, menurut gadis berkacamata tersebut bisnis dijalani sekarang karena dia iba melihat sang ibu.

Ibu Raya sudah cukup tua buat mengurus semua. Apalagi mereka seperti memulai bisnis dari nol ketika menjalankan pabrik Kerupuk Putra Jaya. Dari awal, Raya sudah merasakan capeknya, perasaan bagaimana menghadapi kerasnya berbisnis ikut dirasakan.

Dia tidak ingin ibunya terporsir buat mengurusi pabrik. Untuk masalah dikomplain pembeli, kemajuan dari pabrik sendiri, ia berpikir biar lah Raya sendiri rasakan. Saat ini, kerupuk dihasilkan 2 ton dalam sehari berproduksi. Jumlah karyawan 60 orang dengan shift pagi- malam. Kisaran harga Rp.56 – Rp.57 ribu per- bal (5kg).

Harga masih bisa dinego loh. Disesuaikan saja dengan harga pasaran mau menerima. Bahan baku tepung tapioka dari Lampung. Kendala dihadapi sebagai pengusaha muda, dalam wawancara khusus bersama pihak bisnisukm.com, ia menyebutkan kendala terbesar ialah bahan baku.

Terkadang pada bulan tertentu kebutuhan akan tepung tapioka sulit. Sering mengalami kekosongan buat produksi karena harga naik- turun. Sehingga bahkan sampai sekarang Raya masih berjuang. Bagaimana biar bisa menangani kekosongan stok bahan baku ke depan, tetapi tanpa mengurangi kualitas produksi sendiri.

Banyak pesaing, usaha pembuatan kerupuk kecil- kecilan mulai nampak. Kebanyakan dibuat justru malah merusak harga pasaran. Untung Raya mempunya cara jitu mendekati pelanggan. Kendala tersebut dapat ia atasi dengan pendekatan persuasif.

Meskipun modalnya besar buat akusisi yakni Rp.800 juta. Ia mengaku sudah bisa mengantungi omzet hingga Rp.350 per- bulan. Pabriknya juga memberikan pahala karena memberikan lowongan pekerjaan. Ia merasakan betul perubahan masyarakat sekitar lebih baik. Inilah kenapa dia optimis bisnisnya berkah ke depan.

Ke depan, selain membuat kerupuk mawar, keong, rantai dan kepang, Raya ingin mengembangkan aneka kerupuk irisan, seperti kerupuk udang, tersanjung, dan kerupuk tahu. Untuk pemasaran sudah mencapai daerah luar pulau, dan akan mencoba masuk ke pasar ekspor.

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *